Puisi: Raga dan Sebuah Jarak - KEMBALIKAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi: Raga dan Sebuah Jarak

puisi tentang cinta

Raga dan Sebuah Jarak  

Karya : Agista Rahma Ditha 

Aku yang seperti aliran darah Ketika jumpamu
Berlari seperti kujang yang mengejar induknya.
Begitu cepat aliran itu menyusur didalam tubuhku.
Gemetar, setiap kamu hadir.

Ada yang tertinggal, sepotong ati yang berlumur dan berisikan darah.
Namun aneh, isinya ada namamu.

Nadiku hampir terhenti, seolah memaksa lenyap saja. 
Saking tak mampunya sebuah diri memandang jiwa yang hanya akan hilang jika tersentuhkan raga.

Tanganku bersih , tapi ragamu suci tanpa alibi. Aku yang hanya ingin mencoba menggapai malah terkalahkan oleh kupu-kupu lain yang hinggap dan kau sangap dengan riang. 

Jejari tanganku hanyalah sebuah selendang kain untuk menengadah dalam doa. Hanya untuk memintamu.

Kakiku , menapak untuk menyadari keberadaanmu. 
Tapi kamu, hanyut. Tenggelam dengan kakimu dan menghindariku yang terus berlari mencarimu.

Kau seperti tulangku, penyangga-penyangga didalam keutuhan ragaku. Tapi, siapa yang bisa menebak kapan akan roboh. Sebab pekerjaanmu menjadi pesangga. Bukan hanya : Aku seorang.

Mataku , matamu adalah dua bola mata yang menjadi empat kesaksian antara sebuah rasa yang tak akan pernah tersampaikan. 

Dadamu, inginnya menjadi tempat persinggahanku untuk bersandar. 
Namun sial, kurasa sudah ada kepemilikan hak paten. Kau kepunyaan orang lain.
Bolehkah Aku menggugat dengan pengacara ? 
Hanya agar kau menjadi sebuah berhak.

Pada daging, kulit, dan sejuta saraf yang menyerupai jelmaan mu didalam diriku. Tak bisa Aku membedakaan antara kamu dan yang lainnya. 

Kau adalah Rumah. Namun kau berjarak, terlalu jauh aku harus pergi menyusuri.
Sia-sia Aku menjaga,
Dan kau ternyata  dirumah yang lain. 

Biarkan setiap dari kita adalah kata yang akan selalu berjarak. 

Kau adalah sebuah jatuh tanpa sebuah asuransi.
Tak pernah ada jaminan. 
Dan kau adalah jelmaan firman Tuhan, atas sebuah kebaikan-kebaikanmu.

Terimakasih. 

3 komentar untuk "Puisi: Raga dan Sebuah Jarak"