Kuliah Itu Tidak Menjamin Kesuksesan ! - KEMBALIKAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kuliah Itu Tidak Menjamin Kesuksesan !

Memasuki periode penerimaan mahasiswa baru, seperti biasa, para mahasiswa yang terhimpun dalam Keluarga Mahasiswa Bungbulang Peduli Kandangwesi atau yang lebih dikenal dengan KEMBALIKAN, selalu mengadakan sosialisasi tentang pentingnya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi kepada para siswa-siswi tingkat SLTA dan bahkan sekaligus orangtuanya.
kuliah itu tidak menjamin kesuksesan

Tahun ini, bagi saya sendiri, merupakan kali kedua untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Namun demikian, hampir pasti rutin bahwa tiap kali kegiatan itu dijalankan, sebuah pertanyaan yang yang sama selalu terlontar dari sebagian audiens (siswa,orangtua, masyarakat umum). Dan pertanyaan itu adalah : Untuk apa sekolah tinggi tinggi (kuliah) ? Toh banyak orang yang tidak kuliah (lulusan SLTA) tapi tetap bisa kaya raya dan sukses? Apakah kalian (mahasiswa) yakin bisa jadi orang sukses dengan kuliah?"

Atas hal itu, saya jadi teringat tentang salah satu teori dalam statistika yang saya pikir relevan untuk dijadikan jawaban Mari saya uraikan !

Dalam ilmu statistika, ada yang namanya Data Outliers, yakni data yang menyimpang terlalu jauh dari data yang lain dalam suatu rangkaian data. Keberadaan Data Outliers ini akan membuat analisa terhadap data menjadi bias atau tidak mencerminkan fenomena yang sebenarnya. Istilah Outliers juga sering dikaitkan dengan nilai ekstrem, baik ekstrem kecil maupun ekstrem besar.

Biasnya seperti apa? 
Mari saya buatkan satu contoh dalam suatu studi kasusnnya tentang pendapatan bulanan para pemuda desa:

Si A  yang merupakan petani pendapatan bulanannya 1 juta
Si B yang merupakan pedagang pendapatannya 2 juta
Si C yang keja serabutan pendapatannya 1 juta
Si D yang merupakan penjual batu akik pendapatannya 2  juta
Karena si E ini anak bos beras dan juragan tanah, yang mempunyai sawah ratusan hektar, dalam sebulan dia bisa memperoleh pendapatan 30 juta.

Kalau kita rata-ratakan pendapatan kelima pemuda tersebut, maka rata-ratanya adalah sebesar:

(1 juta + 2 juta + 1 juta + 2 juta + 30 juta ) = 36 juta, lalu dibagi 5 orang = 7,2 juta per bulan/orang.

Dari data tersebut, disimpulkanlah bahwa rata-rata pendapatan bulanan pemuda desa sekitar 7,2 juta. 

Di atas kertas, ini benar. Namun, akan jadi bahaya jika data ini dijadikan rujukan oleh pemerintah dalam merumuskan hitungan kenaikan pajak penghasilan, misalnya. Mengapa? Tentu karena empat pemuda lain akan keberatan jika dinyatakan bahwa rata-rata pendapatannya adalah 7,2 juta per bulan, sementara kenyataannya tak demikian. 

Lalu hubungannya dengan lulusan SLTA yang bisa sukses dan kaya raya itu bagaimana?
Kembali pada konsep Outliers di atas. Apakah fenomena anak lulusan SLTA lebih sukses dari sarjana itu merupakan pola yang umum terjadi ? Atau justru hanya terjadi pada kasus tertentu dan bagi segelintir orang saja?

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2018 & 2019, dalam persentase pengangguran TPT menurut pendidikan, angka tingkat pengangguran didominasi oleh lulusan SLTA. Dan ironisnya, angka terbesar justru disumbang oleh lulusan SMK, yang notabene digembar-gemborkan oleh pemerintah sebagai angkatan yang siap kerja. Kemudian disusul lulusan Diploma dan SMA. 

Mengacu pada data statistik ini, maka menjadi jelas bahwa ketika ada Sarjana yang bosnya justru lulusan SMA, ya itu realita. Namun masalahnya, apakah itu cukup representatif mewakili kondisi yang keseluruhan?

Memang perlu dikaji lebih dalam lagi kalo mau fair. Kalo lulusan SMA yang bisa sukses kaya raya bahkan jadi bos itu berkat bapaknya juragan tanah atau pejabat dan dia dimodali buat usaha bisnis ini itu, ya gak perlu kaget. 

Namun, apakah pasti bahwa anak lulusan SMA dari keluarga biasa seluruhnya bisa langsung seperti itu?

Sama halnya dengan narasi yang menyatakan bahwa mahasiwa Drop Out (DO) akan lebih sukses daripada mahasiswa yang Cumlaude. Ya gak bisa digeneralisir begitu lah. Banyak faktor yang membuat mereka jadi Data Outliers. BLOODLINE PRIVILEGE (Keistiweaan Garis Darah) atau biasa kita sebut dengan Kekuatan Orang Dalam, adalah salah satunya. Jadi, tidak bisa dipukul rata bahwa pola itu umum terjadi.

Kesimpulannya adalah:

Mari kita urus diri kita masing-masing. Syukur-syukur kalo bisa saling bantu. Stop merendahkan upaya orang lain yang jatuh bangun demi apa yang ia anggap baik bagi hidupnya. Apapun itu. Kuliah, berwirausaha, rebahan atau bahkan sekedar menjadi hamba dari Om-Om kaya raya. 

Intinya tidak perlu saling menghakimi. Mau kuliah atau kagak, masalah rezeki kan sudah ada yang ngatur. Toh kami sebagai mahasiswa juga gak maksa semua orang untuk kuliah. Sebab kami sadar, memang gak semua orang berminat dan pengen kuliah kok. Kami cuma melaksanakan  tanggung jawab untuk ikut membantu adik –adik SLTA yang memang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan.

Terakhir, untuk para mahasiswa, tetap semangat, jangan jumawa karena titel “mahasiswanya”. Tetaplah rendah hati. Semoga apa yang kalian cita-citakan dapat tercapai. Jangan pernah berputus asa. Gusti Allah bersama mereka yang sabar dan terus berusaha.

Panjang umur perjuangan, Yakin Usaha Sampai. 

Penulis:
Ikbal Zainal Mutaqin

1 komentar untuk "Kuliah Itu Tidak Menjamin Kesuksesan !"

  1. Yang begitu namana : Over Generalisasi, Bos. Gw cakep. Gw orang BBL. Lantas disimpulkan bahwa semua orang BBL cakep. Ya kan gak gitu jugalah. Banyak kok yg gak cakep. Misalnya yg baca komentar ini.

    BalasHapus