Resensi Buku: Siddhartha - KEMBALIKAN
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resensi Buku: Siddhartha

Om adalah busur, panah adalah kalbu,
Sang Brahma adalah sasaran panah,
Yang harus dicapai tanpa henti.
__Hermann Hesse dalam Siddhartha (1951)

SIDDHARTHA adalah sebuah novel klasik karya salah satu sastrawan 'raksasa' Jerman: Hermann Hesse. Siddhartha juga merupakan salah satu dari 3 karya fenomenalnya. Novel yang lainnya adalah Steppenwolf dan The Glass Bead Game.

Siddharta adalah sebuah novel yang memberikan kisah filosofis yang sarat makna yang tidak cuma-cuma. Kisah Siddhartha ini diambil dari India, Siddhartha disini bukanlah seorang Siddhartha Gautama, melainkan Siddhartha tokoh fiksi dari fantasi Hermann Hesse sendiri. Novel klasik Siddhartha ini adalah novel tentang pencarian jati diri manusia terhadap ketenangan hidup dan penyatuan terhadap Nirwana dalam cerita agama Buddha.

Berbeda dengan novel Demian, Demian juga adalah cerita tentang pencarian jati diri dengan jalan pengalaman mistis dan berkaitan dengan hal 'adikodrati'. Sedangkan, dalam novel Siddhartha tidak terdapat pengalaman mistis, melainkan cerita-cerita yang ber-atmosfir 'metafisika' antara manusia dengan alamnya. Inilah sekilas cerita novel Siddhartha yang memiliki 166 halaman.
resensi buku siddhartha

Syahdah, Siddhartha dimasa remajanya sebagai seorang putra dari Brahmana, harus melakukan kegiatan-kegiatan ritual yang menurutnya monoton dan membosankan, yaitu melakukan meditasi, mandi pertobatan, dan mendengarkan petuah-petuah bijak dari sesepuh-sesepuhnya. 

Karena merasa ketidakpuasan pada dirinya, untuk mencari kebahagiaan hakiki dan arti hidup, maka Siddhartha pamit kepada Brahmana ayahnya dan Ibunya untuk mencari kebahagiaan hakiki dan arti kehidupan yang memuaskan dan menantang untuk dilakukan oleh dirinya bersama seorang sahabat setianya, Govinda.

Target  pertama kali Siddhartha dan Govinda untuk mencari kebahagiaan hakiki dan arti kehidupan adalah dengan mencari para Samana (macam Jama'ah Huruj dalam agama Islam) yang sedang melakukan perjalanan ke kota dan ke hutan-hutan. Dalam waktu satu hari, Siddhartha dan Govinda berhasil menemukan para Samana di kota dan bertekad untuk mengabdi menjadi anggota Samana.

Selama tiga tahun Siddhartha dan Govinda menjadi Samana, melewati ratusan-ribuan kilo meter perjalanan ditempuhnya. Ketika istirahat para Samana melakukan meditasi, dan meminta makanan kepada warga-warga selama perjalanannya.

Siddhartha merasa hal tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di kampung halamannya bersama Govinda. Suatu hari Siddhartha memutuskan untuk mencari Gautama (Gotama) yang ilmunya tinggi, dan kebetulan sedang berada tidak jauh tempatnya dari perjalanannya bersama Samana.

Akhirnya Siddhartha dan Govinda pamit kepada Samana tua untuk pergi mencari Gautama untuk belajar. Samana tua marah atas kepamitan Siddhartha. Akan tetapi, Samana tua seketika tunduk; bersujud kepada Siddhartha atas keluhuran ilmu Siddhartha.

     "Siddhartha menempatkan dirinya dekat sekali di depan si Samana tua, dengan penuh konsentrasi dan mencabut daya kekuatannya. .... Si tua membisu, matanya tak bergerak, kehendaknya lumpuh, lengannya terkulai ke bawah; tanpa daya Ia tunduk kepada Siddhartha...."

Dalam beberapa hari saja, Siddhartha dan Govinda sudah berhasil menemukan tempat suci perguruan Gautama. Anehnya, Siddhartha tidak tertarik dengan ajaran Gautama, walaupun Siddhartha menghormati atas keilmuannya. Hanya Govinda yang tulus dan setia ingin mengabdi kepada Gautama.

"..... Bersama sahabatku, aku datang dari jauh, untuk mendengarkan ajaranmu. Sahabatku sudah berada dalam lindunganmu. Tetapi aku akan kembali melanjutkan pengembaraanku."

"Terserah kepadamu," jawab dia yang terhormat dengan sopan."

Dan Siddhartha pergi untuk mengembara mencari kebahagiaan hakiki dan arti kehidupan yang dinamis.

Dalam perjalanannya dia bertemu seorang tukang sampan --Vasudeva-- yang nantinya akan menjadi guru spiritual Siddhartha setelah Siddhartha pulang dari kota. 

Siddhartha dalam perjalanan menuju tempat yang ditujunya, yakni kota. Siddhartha bertemu seorang wanita yang sedang mencuci pakaian di sungai -- tanpa sengaja Siddhartha dan wanita itu melakukan hubungan sensual. Tapi seketika, Siddhartha lari terbirit-birit teringat bahwa melakukan hal tersebut adalah sebuah dosa.

Akan tetapi, disinilah, ketika Siddhartha sudah menemukan kota dan berkenalan dengan seorang pelacur elit dan Si pedagang. Siddhartha bertemu sekaligus berguru kepada Kamala--si pelacur elit--untuk menemukan arti kehidupan dan kebahagiaan yang hakiki. Tetapi Siddhartha malah terjurumus dalam kenikmatan duniawi dengan Kamala. Dan menjadi hartawan dari hasil dagangnya bersama si pedagang, Kamaswami. 

Selama 20 tahun Siddhartha tersesat dan terjerat kenikmatan duniawi, yang menurut Siddhartha saat ketika masih Samana, kenikmatan duniawi adalah tingkah-pola kenal-kanakkan.

Akhirnya Siddhartha jemu dan merasa jauh dari apa yang dicarinya --kebahagiaan yang hakiki dan arti kehidupan-- . Dia malah menjadi manusia serakah dan berhati api. Akan tetapi, 'tak lama Siddhartha melarikan diri dan menjauhkan diri dari hal duniawi itu; lari menuju hutan kembali.

"Ia tersenyum kecil--apakah memang perlu, apakah benar, bukankah ini permainan bodoh, bahwa ia memiliki semua kenikmatan duniawi?..... Ia pun mengakhiri ini. Ia bangkit berdiri, pamit kepada pohon mangga dan kepada semua kenikmatan duniawi, lalu pergi menuju hutan."

Dia menyesal dan tidak sadarkan diri dipinggir sungai dan mau bunuh diri, karena, merasa Siddhartha sudah jauh dari apa yang dicarinya selama ini. Akan tetapi, ketika dia mengatakan: "Om" dalam dirinya, dia kemudian sadar dan bertekad untuk berguru kepada tukang sampan itu.

Si tukang sampan, Vasudeva, menerima keinginan Siddhartha untuk belajar kepadanya. Akan tetapi, dia memerintahkan agar dia harus belajar kepada sungai. Cintailah air ini! Tinggal di dekatnya! Belajar darinya! Dan sekian lama Siddhartha mengerti apa yang ajarkannya kepadanya terhadap sungai ini.

Akhirnya Siddhartha menemukan kebahagiaan yang hakiki dan arti kehidupannya dari sungai, dan dia baru mengetahui, bahwa si tukang tambang itu adalah manusia luar biasa Maha Bijaksana dan sudah menuju apa yang disebut--Ketunggalan.

""Aku sudah tahu," katanya tenang. "Kau akan pergi kehutan?"
"Aku akan masuk ke hutan, aku akan masuk kedalam keTunggalan," ujar Vasudeva dengan senyum serah."

Akhirnya Siddhartha menjadi tukang sampan menggatikan Vasudeva. Dan sudah sekian lama di menjadi tukang tambang. Siddhartha bertemu kembali dengan Govinda, yang masih dalam perjalanan mencari kebahagiaan hakiki dan arti kehidupan itu, yang walaupun Govinda mengikuti dan mendengarkan petatah-petitih dari seorang Gautama. 

Govinda diberi tahu oleh Siddhartha, bahwa Govinda tidak menemukan apa yang dia cari itu, sebab, kebahagiaan yang hakiki dan arti kehidupan itu bukan dicari, tetapi, dikhayati dan memakai cinta untuk memaknainya.

Dan akhirnya Siddhartha dan Govinda hidup bersama kembali. Govinda puas dengan apa yang diajarkan Siddhartha kepadanya.


***

Amanat-amanat dari Novel Siddhartha

Pertama, Si pelacur--Kamala. Siddhartha belajar kepada Kamala arti seni mencintai, walaupun Kamala mengajari mencintai hal-hal duniawi yang menjerumuskan Siddhartha kepada lubang kesesatan duniawi. 

Akan tetapi, ketika Siddhartha sudah taubat dari kenikmatan duniawi tersebut, dia memaknai kejadian yang menimpanya dahulu bersama Kamala dan Kamaswami. Bahwa, segala sesuatu harus memakai seni mencintai, Siddhartha memakai seni mencintai itu untuk menghayati alam dengan penuh cinta. 

Dan Siddhartha meyakini, bahwa menuju Sang Brahma; dan menuju ke-Tunggalan ("makrifat") pun harus memakai seni mencintai.

Kedua, Si tukang sampan dan sungai. Siddhartha belajar dari Vasudeva untuk menjadi pribadi yang sederhana, Vasudeva mengajarkan, walaupun diri sudah menuju ke-Tunggalan, dia --Vasudeva-- tetap berpakaian layaknya seorang tukang sampan dan mengajari hal-hal kecil untuk menuju ke-Tunggalan. 

Lalu, sungai, Siddhartha belajar kepada sungai agar senantiasa belajar menerima, mendengarkan dan bersuara dengan segala macam suara untuk bermunajat kepada Sang Brahma.

""Dan apakah kau tahu," lanjut Siddhartha, "kata apa yang diucapkannya, kalau kau berhasil mendengarkan kesepuluh ribu suara sekaligus?"
Dengan bahagia Vasudeva tersenyum, membungkuk ke arah Siddhartha dan melapakan "Om" suci kedalam telinganya. Dan ini pun sudah terdengar oleh Siddhartha selama ini."
***

Biodata Penulis


Max Tonnelar adalah nama pena dari seorang belasteran Bungbulang-Cikajang, yang lahir pada tanggal 19 Desember 2000. Tulisannya dalam bahasa sunda terbit dalam antologi esai bahasa sunda yang berjudul Pamatri Literasi di terbitkan oleh Komunitas Ngéjah. Pekerjaan kesehariannya tidur dan gosok gigi ataupun makan apabila merasa lapar.

Posting Komentar untuk "Resensi Buku: Siddhartha"