Refleksi Kisah Dalem Boncel Masa Kini - KEMBALIKAN

Refleksi Kisah Dalem Boncel Masa Kini

Kembalikan.org - Saya masih ingat kerika guru sosiologi saya berkata,”Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, berguna, atau indah di mata masyarakat”. Lalu,  “Interaksi antar anggota masyarakat, dalam kurun waktu yang lama, akan menghasilkan nilai-nilai itu. Termasuk nilai yang berisi hal-hal yang dianggap indah tadi, seperti dongeng, legenda, cerita rakyat, mitos, dan lain-lain”, sambungnya.

Di dalam masyarakat Sunda, ada banyak sekali dongeng, legenda, cerita rakyat maupun mitos, seperti Si Kabayan, Sangkuriang, Nyi Roro Kidul, serta Dalem Boncel. Jika mengacu pada penjelasan di paragraf pertama, itu berarti bahwa Si Kabayan, Sangkuriang, Nyi Roro Kidul, serta Dalem Boncel adalah hasil interaksi antar anggota masyarakat Sunda dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, semua itu adalah produk budaya masyarakat Sunda, impelementasi dari nilai keindahan yang mereka anut.

Sampai saat ini, pengarang produk-produk budaya seperti diatas belumlah bisa ditemukan. Bila ada yang bertanya,”Pengarangnya siapa?”, maka jawabnya adalah “anonim” alias tanpa nama. Ya, tanpa nama. Tapi bila ada yang bertanya,”Pengarangnya terinspirasi oleh apa atau siapa?”. Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti sejenak berpikir panjang.
refleksi kisah dalem boncel

Pengarang dari produk-produk budaya diatas pastilah orang yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Anggaplah ia/mereka  adalah seniman. Di dalam  membuat sebuah karya, seorang seniman selalu menghubungkan karya-karyanya dengan apa yang terjadi di masyarakat. Dalam Surat Cinta Rendra pernah menulis,”Seorang penyair yang bermula dari kata-kata yang bermula dari kehidupan pikir dan rasa”. 

Selain itu, Kuntowijoyo melalui sebuah kata pengantar dalam karya Taufik Ismail yakni Malu Aku Jadi Orang Indonesia pun mangatakan bahwa Taufik Ismail adalah seorang penyair yang selalu menghubungkan karya-karyanya dengan peristiwa sejarah yang ia alami. 

Hal ini menunjukan bahwa seorang penyair atau seniman pada umumnya tidaklah lepas dari lingkungan tempat ia berpijak. Ia akan menuliskan apa yang ia lihat, ia pikir dan ia rasa. Ia akan menjadi seorang yang menggubah sejarah manusia pada zamannya ke dalam karya demi karya. Bila perlu bukti, ini bisa jadi gambaran, barangkali :

“Pramoedya Ananta Toer yang hidup di zaman kolonial banyak mengambil tema penjajahan dalam setiap roman atau novelnya. Chairil Anwar yang hidup di masa Agresi Militer Belanda banyak menulis sajak-sajak perjuangan, seperti misalnya Antara Krawang dan Bekasi. Rendra yang hidup di masa Orde Baru banyak mengambil tema korupsi dan lain-lain seperti dalam kumpulan sajak-sajaknya yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi”.

Demikianlah seorang seniman atau penyair sejati, tidak akan lepas dari permasalahan lingkungannya. Mereka bukanlah penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sebagaimana Rendra tulis dalam Sajak Sebatang Lisongnya. Mereka adalah saksi sejarah.

Baca juga: Fenomena Brain Drain di Indonesia

Di lingkungan masyarakat saya, ada sebuah cerita rakyat yang berjudul Dalem Boncel. Cerita itu mengisahkan seorang pemuda desa yang amat gigih dalam meraih cita-citanya. Hingga pada suatu saat, ia berhasil menjadi seorang bupati.

Ibu-bapaknya masih tinggal di desa. Tapi Boncel tidak berkeinginan untuk kembali atau sejenak menjenguk. Cukup lama kedua orang tuanya ia tinggalkan. Boncel kini seolah sudah lupa dengan asal-muasalnya.

Saking merasa rindu, ibu-bapaknya mencari-cari. Orang-orang memberitahu mereka bahwa Boncel, anaknya, kini telah menjadi seorang bupati.

Tanpa pikir panjang, ibu-bapaknya langsung datang menemui. Tapi sungguh diluar dugaan, boncel justru berpaling. Ia tidak mau mengakui mereka sebagai orang tuanya karena merasa malu oleh orang-orang. Konon, orang tuanya datang dengan pakaian yang compang-camping.

Kemudian, Boncel mengusir mereka. Ia mendurhakai kedua orang tuanya. Boncel kini telah menjadi seorang yang sombong, kacang lupa kulitnya atau habis manis sepah dibuang.Tuhan mengetahui itu. Boncel kena kutuk.
Ia menderita penyakit kulit yang sulit disembuhkan. Berbagai ramuan telah ia coba. Tapi hasilnya sama saja, malah penyakitnya semakin bertambah parah.

Lalu, ia berusaha mencari tabib paling tok cer di daerahnya. Bertemulah ia dengan tabib itu. Namun sungguh diluar dugaan, bukannya memberikan obat berupa ramuan, sang tabib justru menyuruhnya untuk pulang ke kampung halaman, memohon ampun kepada kedua orang tua yang telah didurhakainya.

Karena sudah merasa tidak kuat dengan penderitaan, Boncel pun menuruti perintah sang tabib. Ia kembali lagi, pulang, hendak meminta maaf. Tapi sungguh miris, Tuhan telah memanggil kedua orang tuanya. Boncel tak kuasa menahan tangis. Ia hanya bisa memeluk batu nisan.

Kisah Dalem Boncel hingga kini masih tak jelas latar waktunya. Bisa jadi pada zaman kerajaan, atau bisa pula terjadi pada masa kolonial. Belum ada bukti-bukti yang sedikit bisa memberi pencerahan.

Kini, beratas-ratus tahun sejak munculnya kisah Dalem Boncel tersebut, hal yang hampir sama terjadi. Orang-orang dari daerah saya yang pergi merantau untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan ke kota-kota besar di Indonesia bahkan luar negeri, seolah tak ingin kembali.

Mereka yang hijrah dari daerah, kini sudah banyak yang meraih sukses di kota rantau. Hampir semua jenis profesi mereka tempati, mulai dari pengusaha, bankir, peneliti, ahli listrik, ahli mesin, ahli pertanian, ahli perikanan, ahli kesehatan, pengacara, anggota DPR, dosen, pejabat dinas, tentara, buruh pabrik, hingga polisi.

Namun sayang, mereka yang telah meraih sukses di negeri orang kini seolah lupa akan kampung halaman. Mereka yang jadi pengusaha tidak tertarik untuk memberdayakan orang-orang desa yang masih tak memiliki kerja. Mereka yang jadi sarjana pertanian, perikanan, perekebunan, dan lain-lain, tidak tertarik untuk memajukan pertanian, perikanan, serta perkebunan di daerah asalnya. 

Mereka yang jadi anggota dewan, apalagi, terbuai oleh jabatan. Mereka sudah lupa pada orang-orang desa yang telah memilihnya dengan harapan bisa berkontribusi membangun daerah. Mereka tak pernah menengok daerahnya sendiri.

Keterbatasan jarak dan waktu kerap menjadi alasan klasik yang dilontarkan orang-orang semacam ini. Padahal menurut saya, untuk bisa berkontribusi membangun kampung halaman tidak harus selalu disertai dengan perpindahan badan. Maksudnya, tanpa perpindahan fisik pun mereka bisa berkontribusi dengan menjadi donatur kegiatan pembangunan, misalnya. 

Atau juga bisa dengan memberdayakan kearifan lokal menjadi sebuah peluang lahirnya kemajuan ditunjang oleh keahlian yang dimiliki. Di zaman yang serba praktis seperti sekarang ini, alur komunikasi, termasuk transfer materi dan imateri, sudah bukan jadi problematika lagi.

Sekalipun hingga kini nama pengarang kisah Dalem Boncel belum bisa ditemukan, tapi yang jelas bahwa ia/mereka yang mengarangnya adalah seorang seniman. Dalam membuat suatu karya, seorang seniman pasti terinspirasi oleh lingkungannya. Seorang seniman akan menggubah peristiwa kemasyarakatan ke dalam sebuah karya. Oleh karena itu, kisah Dalem Boncel bukanlah sebuah kebetulan semata, bukan sebuah karya tanpa sengaja. Dalem Boncel adalah sebuah fenomena, yang kemungkinan diambil dari peristiwa nyata.

Sifat yang menjangkit Dalem Boncel ternyata bukanlah sifat yang menjangkit seseorang saja, melainkan hampir kepada setiap orang yang pergi merantau. Bisa jadi Dalem Boncel yang dimaksud oleh sang pengarang anonim itu bukanlah suatu fenomena tunggal, melainkan fenomena umum yang terjadi pada masyarakat saat itu. 

Bila argumen ini benar, itu artinya Dalem Boncel adalah sebuah fenomena umum di kalangan masyarakat lingkungan tempat saya berada, yang terjadi bukan saja saat ini, melainkan sudah sejak dulu kala ketika sang pengarang anonim mengarangnya.

Terlepas dari semua itu, menurut hemat saya, ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang hingga enggan kembali ke kampung halamannya. Faktor-faktor itu berasal dari tempat merantau juga berasal dari tempat asal.

Tempat tujuan merantau biasanya adalah tempat yang jauh lebih maju dibandingkan dengan tempat asal. Karena kemajuan itulah, orang-orang jadi enggan untuk kembali. Disana, mereka serasa bukan lagi orang asing melainkan sudah menjadi warga asli. 

Bukti dari argumen ini dapat kita saksikan manakala ada seseorang yang telah cukup lama tinggal di perantauan, lalu kemudian sesekali pulang pada hari raya lebaran. Karena ketika berbicara sudah tidak lagi menggunakan bahasa setempat, melainkan bahasa yang digunakan di tempat merantau, maka masyarakat kerap menyindirnya dengan istilah “dong sih”. 

Bagi mereka, yang enggan kembali tadi, terutama para ibu-ibu, tanah kelahiran adalah masa lalu. Sementara tanah melahirkan adalah masa kini.

Baca juga: Merdesa atau Mati

Berkebalikan dengan hal itu, tempat asal memang adalah tempat yang jauh dari kata maju. Ya, di tempat asal mereka akrab dengan jalan yang amburadul, fasilitas hiburan yang terbatas, dan hal-hal lain yang berbanding terbalik dengan keramaian kota. Sekalipun di masa lalu mereka pernah berlatih menaiki sepeda diatas jalan yang berlumpur, tapi karena kini sudah terbiasa bermobil diatas jalan “hotmix”, maka mereka ogah untuk kembali lagi ke masa lalu yang suram.

Akan sangat tidak adil rasanya bila saya hanya menyalahkan mereka yang telah hijrah. Cerita ini barangkali bisa jadi alternatif pandang kita. Saya punya seorang teman. Ia adalah salah satu lulusan dari sebuah institut ternama di Indonesia. Keahliannya di bidang pertanian, ia seorang sarjana.

Dengan sepenuh hati, suatu kali ia pernah mengajak saya untuk mengobrol. Pembicaraannya tentang keadaan petani di kampung kami. Ia mengatakan bahwa ia ingin sekali rasanya kembali lagi ke kampung halaman dan berdedikasi memajukan pertanian. Tapi, katanya, masyarakat yang akan ia bantu justru malah kerap menyindir dengan ucapan-ucapan aneh, seperti misalnya,"Sarjana kok kerja di sawah" atau "Sekolah tinggi-tinggi ternyata cuma bisa nyangkul".

Ya, hal inilah barangkali yang menyebabkan mereka enggan kembali. Bayangkan saja oleh Anda jika menjadi seorang sarjana perikanan, pertanian, pendidikan, listrik, mesin, elektronika dan lain-lain, kemudian pulang ke kampung halaman lalu menjadi peternak ikan, menjadi petani padi, menjadi guru, menyediakan jasa servis TV, merancang mesin untuk pengairan, atau hal-hal lain sementara orang-orang di kampung anda justru menghina usaha itu.

Benar kata Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung,"Apakah gunanya seseorang Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja. Bila ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata: Disini aku merasa asing dan sepi".

Dari sinilah saya jadi mengerti alasan mengapa ilmuwan-ilmuwan Indonesia banyak yang lebih memilih untuk menetap di luar negeri, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika. Di negerinya, ia dan ilmunya dianggap tak berguna. Jika saya yang mengalaminya, maka saya pun akan lebih memilih untuk pergi dan mencari tempat lain yang lebih membutuhkan diri saya. Dengan begitu, tentu lebih banyak dan lebih besar pula kebaikan yang bisa saya berikan.

Ternyata, banyak hal yang berpengaruh. Persoalannya tak sesempit yang dibayangkan. Barangkali, sekalipun tidak disampaikan dalam kisahnya, Boncel mengalami apa yang teman saya rasakan. Ia ingin sekali sebenarnya untuk pulang. Tapi harus bagaimana lagi bila masyarakatnya sendiri tidak mau menerimanya.

Kita kerap memaknai kisah Dalem Boncel hanya pada aspek kedurhakaannya saja. Padahal, ada sesuatu yang lebih daripada itu, yakni kegigihannya dalam menggapai cita-cita. Boncel memang durhaka. Benar, ia adalah manusia biasa. Tapi ingat, ia juga punya sesuatu lain yang patut ditiru. Ya, kegigihannya tadi. Orang Sunda harus belajar dari Dalem Boncel, dan bukan saja meniru Si Kabayan.

Baca juga: Selagi Masih Ada Kesempatan

Walaubagaimanapun, bagi saya pribadi, salah satu lagu dari grup musik God Bless yang vokalisnya adalah Ahmad Albar perlu kita renungkan. Lirik lagunya seperti ini :

Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita, sendiri…

Hanya alang-alang pagar rumah kita
Tanpa anyelir, tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita, sendiri…

Lebih baik disini
Di rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada disini, di rumah kita

Sesulit apapun keadaanya, masih jauh lebih baik jadi seorang petani sukses di tanah kelahiran, daripada jadi kacung di negeri orang. Seperti kata Iwan Fals,"Desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota"

Penulis: Yoga Prayoga

0 Response to "Refleksi Kisah Dalem Boncel Masa Kini"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel