Teori Gardner yang Bikin Anak IPA Gak Boleh Sombong - KEMBALIKAN

Teori Gardner yang Bikin Anak IPA Gak Boleh Sombong

Di sekolah, siswa yang memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) lazim dianggap sebagai yang lebih cerdas dibanding siswa yang memilih jurusan lain, seperti Bahasa dan apalagi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dan dengan begitu lantas orang tua siswa kerap cemberut kala anaknya lebih memilih jurusan lain selain IPA.

Sejatinya, pandangan semacam itu adalah dampak dari teori Alfred Binet, seorang ahli Psikologi, khususnya Psikologi Pendidikan, yang pada abad 19, artinya tahun 1800-an, nenek lu aja belum lahir, membuat sebuah tes guna mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Adapun tes tersebut lebih mengedepankan kemampuan berhitung saja, sehingga mereka yang tak pandai melakukannya lantas dicap bodoh dan bahkan ‘mengalami keterbelakangan mental’.


kecerdasan majemuk menurut howard gardner

Namun kini, lebih dari 100 tahun sejak Binet wafat pada 1911, para ahli menemukan banyak hal baru terkait kecerdasan. Salah satunya yakni Howard Garnier Gardner yang mengemukakan teori Multiple Intellegence atau Kecerdasan Majemuk.

Menurut Gardner, setidaknya ada 9 (sembilan) jenis kecerdasan yang dimiliki masing-masing manusia. Namun di antara sembilan jenis kecerdasan itu, hanya beberapa jenis kecerdasan yang mendominasi.

Apa saja sembilan jenis kecerdasan menurut Gardner tersebut. Simak ulasan berikut.

1. Kecerdasan Logis-Matematis

Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan berhitung dan menggunakan akal/rasio dalam memecahkan berbagai persoalan. Tokoh penting yang memiliki kecerdasan jenis ini diantaranya Albert Einstein dan Habibie. 

Anak IPA, okelah masuk ke sini. Tapi bukan berarti bahwa IPS gak butuh logika ya. Para pengurus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merumuskan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals 2015-2030 misalnya, tentu merupakan kumpulan orang-orang yang kemampuan logisnya luar biasa. Dan di antara mereka, yang IPA dan IPS campur lho. Gak IPA doang. 


2. Kecerdasan Verbal/Bahasa

Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan dalam menggunakan kata. Misalnya begini, ketika jatuh cinta, biasanya orang langsung jadi melankolis. Nulis puisi-lah, merayu-rayulah dan lain sebagainya. Tapi, coba deh perhatikan. Ada lho yang puisinya bagus. Tapi ada juga yang-maaf-bahkan tidak dimengerti oleh pengarangnya sendiri.

Sebagai contoh untuk yang bagus, baca deh Surat Cinta yang ditulis W.S.Rendra. Awalnya saja sudah begini : Kutulis surat ini kala hujan gerimis. Dan angin mendesah, mengeluh dan mendesah. Wahai Dik Narti, aku cinta kepadamu.

Kalo itu kurang, coba yang ini :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
Kepada hujan yang menjadikannya tiada

Siapakah pengarangnya, silakan tanya ke guru Bahasa Indonesia-mu ya.


3. Kecerdasan Gerak/Kinestetik

Pernah sadar gak bahwa di antara temen-temenmu, ada yang jika ia melempar bola basket, misalnya, selalu saja masuk. Tapi ada juga yang jika ikutan main bola pun, alih-alih menjadi Top Skorer, eh dia malah sering bikin gol bunuh diri?

Nah, kenapa begitu? Alasannya ya ini. Karena memang ada sebagian orang yang kecerdasan kinestetiknya tinggi dan ada sebagian lain yang tidak. Ada yang kayak Ronaldo dan ada juga yang kayak Ronaldikin.  


4. Kecerdasan Visual-Spasial

Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan mengingat dan/atau mengimajinasikan gambar atau susunan ruang. Perwujudan kecerdasan ini terlihat dalam diri mereka yang jago melukis, jago bikin desain arsitektur, para fotografer dan sebagainya.

Meski seolah gak penting, kecerdasan inilah yang membuat Leonardo Da Vinci mampu membuat lukisan yang ratusan tahun kemudian baru dimengerti oleh banyak orang bahwa lukisan tersebut adalah sebuah desain pesawat terbang. Kecerdasan ini pula yang bikin Alun-Alun Kota Bandung bisa seindah itu, misalnya.


5. Kecerdasan Musikal

Sering nonton Indonesian Idol kan? Nah, kenapa para juri, zaman saya khususnya Anang Hermansyah dan Bebi Romeo, kerap bilang bahwa ‘kalo aku sih yes’ kepada salah seorang kontestan pada suatu ketika. Tapi di waktu yang lain berkata ‘kalo aku sih no’ pada kontestan yang lain?

Jawabnya ya ini. Karena memang ada orang yang hasil rekamannya meledak dalam arti ngehits dan ada pula yang hasil rekamannya meledak dalam arti bikin dapur rekamannya berantakan saking suaranya fals.  


6. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini berkaitan dengan ketenangan batin. Orang yang cerdas secara Intrapersonal biasanya lihai mengelola perasaan. Ia tidak grasa-grusu. Pembawaannya kalem. Santai. Cool. Manusia dengan kecerdasan ini pastinya jauh dari kata frustrasi serta niat bunuh diri sebab ia pandai mengelola hati.  


7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan jenis ini nampak pada orang-orang yang lihai dalam melakukan komunikasi. Misalnya begini, tiap kali orang dengan kecerdasan tipe ini hadir di suatu kumpulan, maka pasti kumpulan itu menjadi seru. Sebaliknya, saat orang ini tiada, segalanya menjadi hambar tanpa rasa yang pernah ada. .

Biasanya orang-orang dengan kemampuan ini selalu dipercaya untuk mengemban amanah oleh banyak orang. Ya, ia terlahir sebagai pemimpin.

Dalam soal asmara, biasanya ia pandai membuat pasangannya nyaman.

Mustahil bagi dirinya untuk menyanyikan lagu Maju Tak Gentar saat Anda memancingnya untuk berlaku romantis dan berharap ia melantunkan Akad dari Payung Teduh.


8. Kecerdasan Naturalis/Ke-Alam-an

Kecerdasan ini erat kaitannya dengan para petani, peternak, pelestari lingkungan dan lain sebagainya. Mereka secara alamiah memang memiliki minat yang luar biasa pada hiruk pikuk flora dan fauna.

Jadi, jika misalnya pacar Anda asyik berduaan dengan ayam selama berjam-jam, jangan curiga atas hal-hal aneh. Mungkin memang ia punya kecerdasan jenis ini.


9. Kecerdasan Eksistensial

Di antara sekian jenis kecerdasan, kok Socrates, Plato, Aristoteles, Auguste Comte, Baudrillard, Hegel dan sebagainya gak disebut-sebut? Padahal mereka kan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah intelektual umat manusia.

Nah, dalam jenis kecerdasan inilah mereka baru bisa dimasukkan. Para filsuf itu cerdas secara eksistensial sebab mampu menangkap hakikat atau yang abstrak dari berbagai hal yang sifatnya konkret.  

Di antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok manusia, kelompok manusia dengan kelompok manusia, ternyata ada beragam hubungan dan pola tertentu. Misalnya, ada yang penampilannya kinclong dan ada yang semrawut. Itu hal yang konkret. Tapi apa yang abstraknya, hakikatnya?

Disimpulkanlah bahwa ada stratifikasi/susunan/tingkatan sosial di dalam masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi.  

Hal-hal semacam ini hanya mampu ‘ditangkap’ oleh mereka yang cerdas secara eksistensial.

Nah, teman-teman, demikianlah beragam jenis kecerdasan menurut Howard Gardner. Setiap orang biasanya memiliki, paling tidak, tiga jenis kecerdasan dari sembilan jenis kecerdasan yang ada.

Mulai saat ini, coba kamu Analisa. Kamu cerdas dalam hal apa. Bila sudah bisa menilai, maka asah terus kecerdasanmu di bidang itu. Jangan risau bila kamu kurang cerdas dalam satu hal. Sebab pasti kamu cerdas dalam hal lain.

Burung dilahirkan untuk terbang. Ikan diciptakan untuk berenang. Yang salah adalah memaksa ikan untuk terbang dan menghukum burung kala ia tak mampu untuk berenang. Serta, ehm... meminta buaya untuk nikah sama kamu.

Penulis : Yoga Prayoga, Alumni SMAN 7 Garut Jurusan IPS. Dapat ditemukan di Instagram @prayoga.id.eaCatat. Saur saha IPS Baong? IPS mah kasep. 

1 Response to "Teori Gardner yang Bikin Anak IPA Gak Boleh Sombong"

  1. Mantap...... to make it better ! IPS is Social elementary life in people.

    #Termotivasi

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel