Cinta (Mahabbah) Allah SWT - KEMBALIKAN

Cinta (Mahabbah) Allah SWT

Cinta kepada Allah merupakan tujuan yang paling utama dari segala maqam, dan puncak paling tinggi dari semua tingkatan. Tidak ada maqam setelah cinta, kecuali dia adalah buah dan konsekuensinya, seperti kerinduan, rasa suka, ridha dan seterusnya. Dan tidak ada maqam sebelum cinta, kecuali dia adalah mukadimahnya, seperti tobat, sabar, zuhud, dan lain-lain.
📚[Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'ulum ad-Din, vol. XIII, hal. 2570]

Cinta tidak memiliki batasan jelas, kecuali cinta itu sendiri. Definisi-definisi justru menambah ketidakjelasannya. Definisi cinta adalah wujudnya. Sebab, definisi adalah milik ilmu pengetahuan. Sementara cinta adalah perasaan yang memenuhi hati orang-orang yang mencintai. Yang ada di dalamnya adalah perasaan yang menggebu-gebu. 

Semua yang dikatakan tentang cinta hanyalah sekedar keterangan tentang pengaruhnya, ungkapan tentang buahnya dan penjelasan tentang sebab-sebabnya.
Cinta (Mahabbah) Allah SWT

Syaikh Ibnu Arabi al-ahatimi berkata,
"orang-orang berbeda pendapat tentang mendeifinisikan cinta. Tidak seorang pun yang aku dapatkan bisa mendefinisikannya dengan definisi yang sebenarnya. Bahkan hal itu tidak mungkin terjadi. Orang yang mendefinisikannya tidak mendefinisikannya kecuali dengan hasil-hasilnya, pengaruh-pengaruhnya dan konsekuensi-konsekuensinya. Apalagi cinta itu telah menjadi sifat allah. Hal yang paling baik yang pernah aku dengar tentang cinta adalah yang diriwayatkan oleh lebih dari satu orang kepada kami dari Abu Abbas ash-Shanhaji, bahwa beliau telah ditanya tentang mahabbah (cinta). Beliau berkata, 'Cemburu merupakan salah satu tanda Cinta. Dan cemburu menyebabkan ketertutupan. Oleh karena itu, dia tidak dapat didefinisikan'."
📚[Muhyiddin ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyyah, bab ke-78]

Ibnu Dibagh berkata,
"Sesungguhnya cinta tidak dapat diungkapkan hakikatnya kecuali oleh orang yang merasakannya, maka cinta itu akan menguasai pikirannya dan dapat membuatnya lupa akan apa yang sedang ia alami. Dan ini merupakan perkara yang tidak mungkin di ungkapkan. Perumpamaannya adalah seperti orang yang mabuk berat. Jika dia ditanya tentang hakikat mabuk yang dialaminya, maka dia tidak akan dapat mengungkapkannya dalam keadaan seperti itu. Sebab, mabuknya tersebut telah menguasai akalnya. Adapun perbedaan antara dua jenis mabuk ini adalah bahwa mabuk yang disebabkan oleh minuman keras merupakan sesuatu yang insidensial dan bisa dihilangkan. Orang yang mabuk bisa msnjelaskan keadaannya ketika dia sudah sadar. Sementara mabuk cinta merupakan sesuatu yang esensial dan tidak dapat dielakkan. Orang yang mengalaminya tidak mungkin sadar darinya, sehingga dia dapat menjelaskan hakikatnya. Seorang penyair berkata:

Orang yang mabuk karena khamar akan sadar,
Dan orang yang mabuk karena Cinta akan mabuk selamanya.
📚[Abdurrahman al-Anshari, Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Ghuyyub, hal. 21]

Oleh karena itu, ketika junaid ditanya tentang Cinta, jawabannya adalah banjirnya air mata dari kedua matanya, dan berdebarnya hati karena kegelisahan dan kerinduan

Kemudian dia menjelaskan apa yang telah dia dapatkan dari pengaruh cinta tersebut.

Abu Bakar al-Kattani berkata, "Permasalahan Cinta pernah didiskusikan di Mekah yang dimuliakan Allah pada musim haji. Para Syeikh berbicara tentangnya. Dan Junaid adalah yang paling muda di antara mereka. Mereka berkata kepada Junaid, "berikan pendapatmu, wahai orang Irak." Junaid menundukan kepalanya dan meneteskan air matanya. Lalu berkata,

"Seorang yang pergi dari dirinya sendiri, terus-menerus mengingat tuhannya, melaksanakan semua hak-hak-Nya, melihat-Nya dengan mata hatinya, cahaya keagungan-Nya membakar hatinya, kesucian minumannya berasal dari gelas kelembutan-Nya. Dan yang maha kuasa telah menyingkap kegaiban untuknya. Jika dia berbicara, maka hanya demi Allah. Jika dia mengatakan sesuatu, maka hanya dari Allah. Jika dia bergerak, maka hanya atas perintah Allah. Dan jika diam, maka dia bersama Allah. Oleh karena itu, dia karena Allah, untuk Allah dan bersama Allah.

Mendengar perkataannya ini, para syeikh menangis dan berkata, "Tidak ada lagi selain ini. Semoga Allah membalasmu, wahai mahkota ahli makrifat."
📚[Ibnul Qayyim al-Jauziah, Madarij as-Salikin Syarh Manazil as-Sa'irin, vol. III, hal. 11]

📚[Disalin dari Kitab Haqa 'iq at-Tashawwuf, Syaikh Abdul Qadir Isa, hal. 277-279]

2 Responses to "Cinta (Mahabbah) Allah SWT"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel